This slideshow requires JavaScript.
Berawal dari ajakan seorang teman yang agak lama dan sudah akrab (ojan). Dia ingin sekali mengunjungi kakaknya yang tinggal di Tuban, Jawa timur. Memutuskan untuk menempuh aspal dengan roda dua. Melewati klaten, Solo, Ngawi, dan Bojonegoro yang panasnya tidak masuk akal. 5 jam perjalan yang sering berhenti melepas dahaga dan bahan bakar. Tuban, kota yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Ada hal menarik apakah disana? itulah salah satu alasan rasa ingin mengunjungi.
Tuban, tiba disini sekitar jam 8 malam. Menginap dirumah saudara-nya teman perjalanan. Yang paling tidak masup akal, mandi malam dan beberapa menit kemudian setelah mandi keringat lagi. Kalau siang lebih sakti, Panasnya membakar jempol kaki.
Ternyata Tuban adalah kota ziarah sedunia, banyak makam orang yang dituakan, seperti Sunan dan kyai – kyai lainnya. Terlalu banyak malah. Hampir Tiap hari di sekitaran alun – alun banyak pendatang berkostum putih putin berbanding lurus dengan banyaknya tukang becak mangkal dan wara – wiri.
Malam hari, pusat keramaian ada 2. Yang pertama adalah masih sama, keramaian peziarah. dan yang kedua adalah Keramaian di pinggir pantai, bisa dikatakan sebagai central pergaulan muda – mudi di Tuban. Mulai dari rombongan Punk, klub motor, kencan dibeberapa sudut gelap, dan Polisi yang memantau ombak.
Klenteng Kepiting, juga salah satu tempat yang banyak dikunjungi para wisatawan agamis. Goa yang diatasnya ada pasar rakyat yang memutar siaran ceramah provokatif, lupa nama Goa-nya namun tempat ini salah satu tempat wajib kunjung bila kalian ke Tuban.
Berjalan ke bagian Barat Tuban, menghampiri air terjun kering karena diretas kemarau. Dan bertemu Nenek pemilik lahan parkir rumahan dan juga menjabat sebagai Penjaga makam seorang Guru agama. Malam harinya menghadiri semacam expo dari pabrik semen lokal. Pendatangnya tumpah, dan dihibur oleh artis ibukota.
Pulang. Melewati Pantura yang eksotis dikala anda melihatnya untuk pertama kali. Namun lama – lama akan jenuh hampir menyentuh putus asa, karena selama 2-3 jam menyusuri aspal hanya bisa memandang kanan laut dan kiri tanah gersang dengan sapi kurus. Dan sesekali dihibur dengan pemandangan kebun garam warga setempat.
Pantat mulai kesemutan melewati Pati, dihibur dengan lanskap kota tua Semarang. Malam naik ke Ambarawa, dan turun ke Magelang dihibur hujan yang sudah lama tak hadir. Kembali ke Jogjakarta dengan recovery pinggang untuk dua hari kedepan.
Naik motorsikal bersama teman memang pegal.
# KAPAN-KAPAN-JALAN-JALAN-LAGI-JAN
0.000000
0.000000