dialita_live_0011

Belakang panggung Dialita

Foto-foto ini diambil mulai dari sebelum dan pas acara berlangsung, hari sabtu, 1 oktober 2016. Senang rasanya melihat ibu-ibu dari paduan suara Dialita tersenyum dan riang menyanyikan lagu mereka yang dulunya digembok dan dicekal.
Acara ini bertempat di Kampus Sanata Dharma, di lapangan beringin Soekarno. Walau cuaca yang tak menentu, tapi semangat mereka bernyanyi tetap menggebu. Sedih, senang, bahagia, dan menghibur menjadi satu kesatuan malam itu.

Untuk menonton video mereka, coba deh disini

sunatan 14

Tengger, menjelang sunatan massal

   Sabtu siang, sebelum digelarnya sunatan massal di Balai desa Wonotoro, Bromo. Orang-orang Tengger bergotong royong mempersiapkan hajatan yang akan dilaksanakan esok hari.
Soundsystem di atap balai desa guna pertunjukan orgen tunggal sudah berdiri sedari pagi. Namun, sebagian besar kegiatan terpusat di dapur balai desa. Para orang tua yang anaknya bakal disunat esok hari bergotong royong mempersiapkan konsumsi. Karena sunatan massal berarti hajatan ini yang bakal dihadiri oleh semua warga, dan menyediakan hidangan gratis.
Para lelaki bertugas menyembelih dan mengolah daging sapi. Sedangkan para wanita bertugas bersih-bersih, menanak nasi dan membuat makanan ringan. Semua dikerjakan dengan penuh senyum demi menyambut hari besar untuk anak-anak mereka.

Desa Wonotoro, Bromo Tengger, 21 Agustus 2016.

Si Berani

asu copy

Asu. Kasihan betul nasib si anjing kampung. Sudah tua, nyari makan susah, kadang harus berpindah-pindah mengais tempat sampah, dituduh babi pula. Dasar Haram.

Sebagai pendatang baru, si Asu tampak mondar-mandir pondok melati. Jangankan lapor RT dan RW setempat, menyapa warga yang lalu-lalang saja tidak. Mungkin karena di pondok melati sebelumnya sudah tak banyak makanan. Entah alasan si Asu datang ke Pondok melati siang itu. Entah. Mungkin tempat sampah di pondok melati lainnya sudah dikuasai anjing lain. Mungkin di pondok melati lainnya lagi sudah dikuasai oleh gerombolan kucing kampung setempat. Kampung tengah memang harus selalu terisi, agar hidup bisa terus berlari.

Sial betul nasib si Asu. Kedatangannya tidak diharapkan. Dasar haram. Tidak seperti kedatangan ulama yang mengisi pengajian dengan mobil alphard-nya yang harus parkir jauh dari mesjid, di luar kampung karena jalanan kampung yang sempit dan menghindari baret karena kerumunan jema’ah yang selalu menyambut beliau dengan riuh rendah syalawat.

Kambing hitam kadang tampak seperti anjing hitam. Tergantung mata siapa yang melihat. Semua bisa jadi kambing hitam. Asal hitam. Karena hitam selalu kelam di mata beberapa orang. Orang-orang ini selalu susah menerima yang berbeda dari mereka. Putih selalu mereka istimewakan. Putih selalu mereka sucikan. Putih selalu mereka jadikan pegangan. Entah putih yang seperti apa. Yang penting putih.

Sapu, kayu dan batu jadi makanannya sore itu. Padahal si Asu belum sempat bergumul dengan bungkusan-bungkusan plastik di tempat pembuangan sampah pondok melati yang bau, yang tumpah hingga ke badan jalan, dan yang penuh belatung sedang berpesta. Perut kosong sedari sore kemarin hingga senja ini belum juga terisi. Sebuah kubangan bekas hujan semalam jadi pereda dahaga demi perjalan jauh yang entah mencari tempat sampah.

Sore ini, pondok melati yang acuh, yang sepi, yang sesama tetangga tidak perlu saling butuh mendadak kompak, mendadak kenal, mendadak setuju untuk membakar si Asu hidup-hidup.

Mimpi apa si Asu tadi malam. Susah rasanya si Asu mengingat mimpi tidurnya di sepetak belukar yang basah dan dingin karena hujan cukup deras semalam. Untuk memejamkan mata saja sulit, tak ada tempat yang hangat dan empuk untuk berguling merebah punggung yang memar karena tendangan tukang sampah dua hari lalu. Mimpi apa si Asu dikira berteman dengan babi hutan pencuri uang warga metropolitan. Mimpi apa si Asu tiba-tiba jadi kambing hitam.

Dari balik ilalang si Asu melihat sebuah bak sampah yang bersinar, penuh dengan bungkusan gemuk siap diremuk. Berharap ada sisa tulang ayam dan tumpukan nasi basi di dalamnya. Apa daya batu datang menghampiri lebih cepat. Bukan satu, puluhan, bersahutan dengan teriakan yang tak dimengerti.  Terpojok dan tak melihat peluang untuk berlari. Terjepit siap kalah. Percuma usaha jika kalah jelas di depan mata.

Si Asu merasa inilah ajalnya. Semakin keras si Asu teriak, semakin riuh makian, pukulan dan batu melekat ke tubuhnya. Tak hanya yang dewasa, ibu – ibu sepulang arisan serta anak-anak yang lewat sedang bersepeda pun turut serta melekatkan batu dan tendangan ke badannya. Sial betul si Asu.

“Anjing haram!!!”

“Bakar!!!”

“Laknat!!”

“Bakarrrr!!!”

Sahut salah satu warga yang kebetulan sedang mengisi bensin motornya di warung ketengan pinggir jalan dekat tempat kejadian. Dengan membawa sebotol bensin dari botol topi miring, si pengendara motor lebih memilih membakar si Asu daripada mengisi lambung motornya yang hampir asat demi melanjutkan perjalanan jauh.

Tegar dan berdamai dengan nasib adalah pilihan tanpa bisa memilih.

 

 

 

 

072215_wandirana_9

Rilex kaya Rojali

Baru kenal kemarin-kemarin ini, pertama kali bertemu juga kemarin itu. Pertemuannya juga di tempat yang baru pertama kali, di desa bernama Aur Cina, Riau. Tujuannya ingin mengunjungi goa yang jauh dan lokasinya entah dimana, bersama temannya teman yang juga baru berkenalan. Goa yang jadi hulu di aliran sungai Lubuk Kandis. Goa belum ada nama, yang tahu tempatnya cuma Rojali. Rojali adalah seorang warga lokal, dan sesekali jadi freelance guide buat siapa saja yang ingin jalan-jalan masuk hutan di daerah Belilas dan sekitar.
Rojali, bercerita tentang dirinya yang lahir di Kulon Progo, keturunan dari HB VII, tumbuh besar di Jambi, pernah menikah dan memiliki seorang anak lelaki yang tinggal di Pulau dekat Batam bersama mantan istrinya.

 

072215_wandirana_11
Rojali si guide indie, tidak rekomended. Rojali jarang sadar, seringnya terbang, sebut seorang teman yang sudah mengenalnya lebih dulu. Rojali berteman dengan Bang Ompong, teman satu desa, rumah mereka dekat, selalu berdua jikalau ada kerja sebagai pengantar tamu.
Rojali jarang sadar, masuk hutan jadi kesasar. Bang Ompong-pun lebih kurang sama. Rojali dan Bang Ompong bak dua sejoli, kelakuan mereka berdua juga beti.
Kala itu sebelum berangkat masuk hutan, bertemu dengan duo guide di lapangan sepakbola yang sepi, panas terik khas daerah ekuator menggit kulit. Obrolan mereka ngelantur, banyak senyum, dan earphone melekat ditelinga. Volume keras musik dari earphone terdengar keluar, Slank lagunya.
Sebenarnya ini bercerita tentang Rojali yang mabuk. Sebelum berangkat sebagai penunjuk arah, Rojali dan Bang Ompong nenggak obat batuk sachet, alasannya pusing. Tiga puluh sachet sekali telan, agar pusing hilang katanya.
Mungkin pusingnya Rojali dan Bang Ompong memang hilang, tapi sembilan orang lain yang jadi tamu mereka hari itu ketularan pening. Di dalam semak antah berantah, Rojali dan Ompong saling menunjuk arah yang berbeda. Yang satu bilang salah, satunya lagi berkata benar. Tapi akhirnya sampai juga setelah melewati brain storming nan keras dan berliku.

Pesan moral : Kalau nyari guide jangan yang sedang mabuk, apalagi mabuk overdosis obat batuk. Jangan. Bahaya. Bisa salah arah.

070315_wandirana

The Dirjo’s (Part 1)

Pak Dirjo, semua orang memanggil beliau begitu. Tak ada warga Prujakan- Ngaglik yang tak kenal dengan Pak Dirjo, seorang tuan tanah yang dulunya punya profesi sampingan sebagai tukang supir truk barang antar kota – antar provinsi ini selalu tersenyum saat bertemu siapa saja. Pak Dirjo memang tak muda lagi, tapi semangatnya untuk mengisi waktu selalu membuat decak kagum. Beliau adalah bapak kos saya tiga tahun terakhir ini di Jogja.
Barusan, Pak Dirjo mengundang saya untuk melihat-lihat kegiatannya akhir-akhir ini, ya barusan ini, sejam yang lalu kira-kira. Sedikit tentang Pak Dirjo, beliau adalah pria dengan sederet profesi, dua tahun terakhir saya tinggal di kos miliknya, entah sudah berapa kali beliau berganti profesi, mulai dari jual beli mobil bekas, jual beli sepeda onthel, membuka bengkel sepeda, menerima pengecatan mobil, membuat gerobak angkut barang, dan banyak lagi yang belum terdeteksi.
Barusan saya diajaknya untuk ngobrol didalam bengkel miliknya. Beliau berujar kalau saat ini berjualan barang bekas. Barang yang dijual seperti siku paralon, stop kontak lampu, dan sejenisnya. Semangat beliau cerita sangat menggebu-gebu, layaknya bercerita dengan cucunya. Memang Pak Dirjo tidak terlalu dekat dengan anak dan cucunya semenjak istrinya meninggal delapan tahun lalu dan beliau menikah lagi. Beliau bercerita dengan berjualan barang bekas ini, dapat menghasilkan bersih tiga ratus ribu. “Lumayan to mas? beli bahannya gak sampe seratus ribu sak bagor (karung). Tak cuci bersih dirumah ya tak jual eceran di pasar”. Setiap hari Pak Dirjo ke pasar yang berbeda-beda, mengikuti tanggalan Jawa. “Pasar Pon di Godean, Legi di Gamping, Kliwon di Cebongan, Wage di Jangkang, dan Pahing di Sleman, dari jam tujuh pagi sampe adzan dzuhur. Sorenya saya kulakan bahan dideket Piyungan, mas” Sahutnya lagi.
Pak Dirjo jika bercerita selalu menggebu-gebu dan terkadang lupa waktu. Akhirnya obrolan kami terhenti karena istrinya sudah pulang dari Klaten, dan saya pamit untuk kembali ke kamar. Kapan-kapan tak ceritakan kisah tentang Pak Dirjo lagi, tunggu sajo bila selo. Sampai jumpa selamat malam.

Depan Sutet, 2015.

 

Untitled1

Madu Burhan

Burhan, Rang kayo, Putra madu, dan banyak lagi sapaan untuk beliau. Saya sendiri memanggilnya Pak Burhan. Lahir di Lubuk Kranji, sebuah desa di Kabupaten Pelalawan, Riau. Saat pertama berkenalan dengan bahasa khas daerah yang mana percampuran antara minang, kampar dan melayu, Burhan Sebutnya. Beliau tinggal di Dusun Kokat, kecamatan Petalangan, Sorek, Pelalawan, Riau. Untuk menuju kerumahnya bisa ditempuh dengan berkendara kecepatan santai sekitar kurang lebih tiga jam via jalan darat. Saat pertama berkenalan, beliau bilang anaknya empat dan cucu sepuluh, lalu diralat oleh istrinya kalau anaknya enam dan sebelas cucu. Pak Burhan, 53 tahun, sehari-hari kegiatannya berkebun dan disambi nginang. Tiada waktu tanpa nginang, sedang duduk-duduk di teras rumah, sebelum makan, setelah makan, sambil berkebun, dan dalam kegiatan-kegiatan lainnya. Sesekali beliau berkunjung ke Lubuk Kranji untuk sekedar pulang ke tempat beliau dilahirkan, untuk sekedar membeli jagung manis atau mengunjungi sanak saudara. Pribadi yang lucu, dan sering asal ngomong. Sarapan dan makan pagi menjadi dua hal berbeda oleh beliau. Sarapan itu jam 7 pagi, sedangkan makan pagi jam 9.

041015_wandirana_7

Pertemuan saya dengan Pak Burhan kerana diajak seorang teman, sebut saja namanya Si-Ad, saya menjadi crew dalam rangka mendokumentasikan proses panen madu Sialang yang mana biasanya lebih dikenal dengan Menumbai. Madu Sialang adalah madu yang paling digemari seantero Riau, mungkin di kota-kota lainnya juga banyak suka, aku tak tahuuuuuuuu oh oh.

Dengan mengandalkan info dari bertanya di pasar Sorek, kami diberitahu jika di Dusun Kokat, Petalangan ada seorang Juagan ( juragan ) madu sialang. Juagan bisa diartikan juga dengan pemanen madu. Tak sembarang orang bisa jadi Juagan, mereka yang jadi juagan harus paham betul menyanyikan syair menumbai. Ada sekitar 40 bait syair yang harus dinyanyikan saat memanen madu sialang. Panen madu lebah sialang pun juga mempunyai syarat, seperti memanennya harus dimalam hari saat bulan mati dan tanpa cahaya sedikitpun, karena lebah hutan sangat sensitif terhadap cahaya. Tunam menjadi satu-satunya penerangan saat memanen madu diatas pohon sialang yang tingginya bisa mencapai 50 meter. Tunam terbuat dari serat kayu madu yang digulung membentuk obor. Biasanya tunam dibuat seminggu sebelum panen madu dilakukan.

Mungkin sudah banyak yang tahu tentang prosesi panen madu sialang. Televisi lokal sering meliput prosesi ini, namun tidak dengan prosesi Menumbai. Tivi lokal biasanya lebih memilih menyiarkan prosesi memanen madu sialang siang hari, sedangkan prosesi menumbai yang dilakukan malam hari, prosesi ini sudah menjadi budaya turun-temurun di Riau dan mulai banyak ditinggalkan, dengan alasan keamanan dan kemudahan. Pak Burhan sendiri diajarkan prosesi menumbai ini oleh bapak mertua-nya, yang saat ini sudah meninggal. Di Dusun Kokat sendiri cuma beliau sendiri yang masih melakukan tradisi menumbai. Pak Burhan pernah bilang, “kalau madu diambil siang, induk lebah mati, besok-besok tak ado lagi madu di pohon.” Apalagi sekarang jumlah populasi pohon sialang sudah semakin kritis, hanya terdapat kurang dari 400 pohon diseluruh wilayah Riau. Ah kau wan, terlalu serius.

Pohon sialang yang biasa dipanen oleh pak Burhan adalah milik pribadi, yang dulu dibelinya sejak tahun 1995. Beliau punya tiga pohon sialang yang produktif menghasilkan madu, namun saat ini hanya tinggal dua pohon, karena salah satu pohonnya terbakar disebabkan keteledorannya sendiri, lupa mematikan tunam yang ditinggalkannya selepas panen. Dengan santai beliau berkata, kalau lupa membawa sisa tunam pulang kerumah sehabis memanen madu, setelah tiga hari berlalu baru tau sisa bara api tunam melalap pohon sialang-nya sampai rata dengan tanah.

Kemarin kami diberi kesempatan untuk menonton langsung prosesi menumbai, sebagai penonton amatir yang kurang pengalaman dari segala lini, menonton prosesi ini sangatlah bahagia. Tentu saja tak ada yang ingin disengat lebah hutan. Apalagi banyak cerita yang beredar, ada yang pingsan jika disengat lebah pohon sialang ini. Namun tekad sudah bulat, bertolak jam delapan malam dari rumah pak Burhan ke Pohon sialang miliknya yang hendak dipanen madunya malam itu. Pohon sialang miliknya berjarak 15 km dari rumahnya, yang terletak di daerah yang bernama sungai durian yang tak ada satupun pohon duriannya. Jangankan durian, sungaipun tak ada. Untuk mencapai pohon sialang kami harus berjalan membelah kebun karet dan kebun sawit warga, dan sedikit hutan yang masih alami. Prosesi menumbai ini dilakukan mulai dari jam 9 malam sampai adzan subuh hampir berkumandang. Ada tiga orang juagan yang bertugas diatas pohon malam itu. Menonton prosesi ini seperti menonton konser musik yang mana panggungnya adalah pohon sialang. Bara api berjatuhan dan lantunan syair saling sahut-sahutan antara sesama juagan yang memanen madu malam itu. Panen malam itu menghasilkan 600kg madu, lumayan kalau dipakai buat mandi madu orang serumah bisa jadi manis semua.

Pulang dari menonton konser menumbai ini hampir semua orang yang ada disana mendapat jatah sengatan lebah, saya sendiri dapat jatah di jempol tangan dan mata kaki. Sungguh syahdu. Tapi karena kita orang Indonesia, selalu masih ada untungnya. Ada yang disengat di tangan, di wajah, dan di lidah. untung masih di jempol tangan, bukan disengat di lidah.

 

 

 

010415_wandirana_19

Jalan-jalan bersama POKA

Kemarin, ya kemarin ini hari minggu dengan sengaja mengunjungi pantai Glagah, Kulonprogo. Sengaja datang dipengujung libur panjang akhir tahun. Ramai, tentu saja ramai. Tujuan utama bukanlah untuk jalan-jalan ngisi waktu layaknya wisatawan malas seperti biasanya. Kali ini agak berbeda, Sedikit bekerja banyak mainnya. Bekerja tanpa hiburan tentu saja kurang lengkap, maka dipilihlah pantai Glagah sebagai tempat untuk memotret dari produk POKA yang baru, yang bernama Wanderer.

Kemarin cuaca lumayan bersahabat, mendung serta hujan yang terlambat datang. Cerah ceria dan panas membara membakar Glagah penuh semangat. Langit biru sembilu bersanding dengan gumpalan awan sungguh indah berbatas sepert garis dengan air laut dikejauhan. Indah nian hari minggu kemarin yang mana menjadi penutup dari semua libur panjang akhir taun. Pantai Glagah ramai dikunjungi, riuh rendah penuh muka gembira para pengunjung. Kemarin, Sesi foto produk luar ruang kami juga dibantu oleh seorang dengan banyak profesi, vokalis, penulis, dan tentu saja playboy asal Purwokerto bernama Darojat.

Sedikit tentang si POKA, adalah sebuah merek tas kamera lokal Jogjakarata yang mana saya dan seorang teman bernama si-Mat berduet penuh santai dan senggang untuk membesarkannya. Sebenarnya post ini untuk memacu kembali semangat menulis diawal tahun 2015 ini yang mulai memudar. Tapi tak ada salahnya sembari promosi usaha sendiri demi masa depan yang berdikari.

Sudah ya, segitu dulu. Bagi yang pengen beli tas-nya, silahkan mengunjungi POKA.

 

 

102414_wandirana_19

Papermoon Puppet Theatre : Surat ke Langit

Kemarin dulu, bulan lalu, diajak untuk mengabadikan rehearsal “Surat ke Langit” Papermoon Puppet Theatre di Rumah Budaya Yayasan Bagong Kussudiardja, Bantul. Pertunjukan Surat ke Langit ini memang bukan untuk digelar di Jogja, tetapi di Salihara, Jakarta. Ajakan yang jangan sampai ditolak. Kolektif/grup teater yang lahir sejak tahun 2006 ini terkenal dengan pertunjukan mereka yang memainkan emosi penontonnya. Terakhir menonton pertunjukan mereka dua tahun lalu di Taman Budaya Jogjakarta, pada perhelatan Art-Jog 2012.

Kali ini mereka membawa cerita berbeda dari pertunjukan mereka yang sebelumnya, yang mana selalu tersirat sejarah gelap politik. Puno, seorang tukang pos nan usil selalu iseng terhadap teman-temannya dikantor mendapati dirinya terserang penyakit paru-paru akut, dan mengetahui umurnya tidak panjang lagi. Puno mempunyai seorang anak yang perempuan yang periang bernama Tala, dan seekor anjing bernama Kwawi. Selain itu, Puno mempunyai seorang teman dekat yang bernama Heff yang mana teman sesama tukang pos. Singkat cerita, Puno menitipkan sepucuk surat wasiat kepada Heff tanda perpisahan untuk diberikan kepada Tala apabila dia sudah tiada nantinya. Ketika mengetahui sang ayah sudah tiada, Tala menulis banyak surat untuk Puno yang berada di langit.

Nah, lalu aku bingung mau nulis apalagi karena sudah lama,  sudah mulai agak lupa detail ceritanya gimana. Memang disini tak kelihatan menyentuh ceritanya. Tapi, jika menonton langsung pertunjukan mereka, walaupun perawakanmu seperti Danny Trejo atau Advent Bangun, pasti luluh lantak amburadul dan banjir air mata. Sedih, senang, lucu dirangkum menjadi Surat ke Langit.

Lain kali kalau Papermoon pentas jangan sampai tidak nonton. Apalagi buat kalian yang jarang nangis, kasian air matanya tidak digunakan.

 

082414_wandirana_9

Wisatawan Malas : Museum Dirgantara Mandala

Jumat kemarin (22/08/14) sengaja ngisi waktu untuk mengunjungi Museum Dirgantara Mandala yang terletak didalam komplek Angkatan Udara Jogja. Ternyata kalo mau masup kompleknya harus menitipkan identitas, mungkin karena muka saya kurang bisa dipercaya sebagai makhluk tuhan yang baik-baik dan lurus-lurus saja. Masuk komplek yang kiri kanan warna biru, sangat berbeda jauh dari aroma jalan menuju komplek, tak ada hiruk pikuk klakson truk. Komplek yang sungguh asri, nyaman, tenang, dan jalanannya juga sepi. Sesekali tampak anak-anak SMA pulang sekolah dengan sepedanya berbondong-bondong.

Ada perdebatan tidak penting yang mau tak mau harus didengar saat akan memasuki portal komplek yang dijaga oleh dua bapak-bapak berseragam lengkap dan membawa senjata. Tak sengaja bertanya “Pak, Museum Dirgantara-nya dimana ya?” lalu dijawab, “masnya lurus aja, nanti ketemu Pura, lurus lagi, nanti ada jalan kekiri papin blok, belok kiri” Langsung dipotong oleh temannya yang agak gempal, “Jalan Aspal yo! Dudu, Papin”, lalu dijawab lagi oleh bapak yang satunya, “Papin blok ndes!” – “aspal!” – “wis diaspal to?” – “iyo aspalan kok” – lalu, setelah menonton debat sore yang tidak informatif, memutuskan untuk pamit ditengah debat sore bapak-bapak penjaga portal dan jalan menuju Museum dengan info seadanya.

Ternyata jalan kekiri menuju museumnya jalan aspal. Dipelataran museum ada sedikitinya empat pesawat yang diparkir. Kurang tau jenis apa, tapi salah dua dari pesawat tersebut berperut landai, tipikal pesawat yang bisa mendarat diatas air. Ukurannya juga luar biasa besar, kira-kira bisa membawa orang se-RT. Biaya masuk museum cukup tiga ribu rupiah saja, murah meriah. Museumnya juga Bersih, dan pengunjungnya sepi.

Didalam museum ada patung-patung pahlawan, kota-kotak kaca yang berisi seragam-seragam angkatan udara dari jaman ke jaman. Sulit juga menceritakan dengan seksama dan akurat, karena diburu waktu berkunjung museum yang tinggal kurang dari satu jam. Sedikit info, Museum buka dari jam 10 pagi hingga setengah 4 sore.

Yang paling menarik dari museum ini adalah ruang Alutsista (alat utama sistem pertahanan). Didalam ruang yang lebih mirip hanggar ini banyak pesawat-pesawat diparkir rapi dengan papan informasi seputar pesawat didepannya. Tak hanya pesawat yang terdapat didalam ruang alutsista. Ada senjata-sentaja yang pernah dipakai oleh Angkatan udara sejak jaman sebelum kemerdekaan. Dari ruang Alutsista ada pintu yang menghubungkan dengan ruangan Diorama. Didalam ruangan ini ada sekitar puluhan diorama yang menceritakan tentang perjalanan Angkatan Udara Republik Indonesia. Memasuki ruang diorama seakan kembali kemasa kecil saat kunjungan museum jaman Sekolah Dasar dulu, dan berfoto didepan diorama. Museum sengaja dibuat memutar agar memudahkan pengunjung. Setelah ruang diorama ada stand kecil yang menjual merchandise seputar Angkatan udara. Ada topi, kaos, dan teman-temannya.

Halaman dari museum tak kalah menarik untuk sekedar melepas penat setelah berputar-putar didalam museum. Banyak kursi-kursi yang berhadapan langsung dengan pesawat pengangkut barang yang sengaja diparkir diluar museum karena ukurannya yang sangat besar dan tak mencukupi untuk diparkir didalam ruang Alutsista.

Dengan modal tiga ribu bisa vakansi asik. Mungkin dengan berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala ini bisa menjadi salah satu pilihan menarik membunuh akhir pekan diujung bulan yang belum gajian.

 

 

082114_wandirana_25

Wisatawan Malas : Opening FKY 26

Kemarin, Rabu (20 agustus 2014) siang menjelang sore ada perhelatan apik di Tugu Jogja. Pembukaan FKY ke-26. Untuk pertama kali saya melihat Tugu dipasangi panggung penuh tata lampu yang menawan kalau lampunya idupin dan pastinya bikin sumringah. Acara ini diisi oleh parade kesenian dan komunitas yang tersebar di Jogjakarta. Mulai dari Komunitas pecinta anjing, Gembira Loka Zoo, komunitas cosplay, parade boneka oleh Papermoon puppet teater, sanggar-sanggar tari tradisional, Puluhan angkringan gratis serta dedek-dedek cantik dari SMA Stella Duce, dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan serta yang terlewatkan.

Ramai sudah pasti, apalagi acara yang terpusat ditengah jantung kota Jogja, gratis pula. Masyarakat tumpah ruah dijalanan, maka dari itu kami memilih untuk menonton dari kejauhan sembari menikmati kopi di warkop Beans yang letaknya tak jauh dari venue. Wisatawan malas. Ternyata menonton dari kejauhan juga asik. Sembari berbagi cerita bersama teman-teman, dan sesekali menguping acara yang sedang berlangsung. Setelah pawai selesai, dan acara akan dilanjut malam setelah magrib.

Malamnya tak kalah ramai, penontonnya bejibun. Lampu-lampu dari panggung yang melingkari Tugu membentuk hurup “U” mulai kelihatan, kerlap-kerlip warna warni seperti disko, Tugu diterangi dari segala sisi. Upacara pembukaan FKY-26 ditandai oleh suara Gong yang digebuk oleh Wakil Gubernur Jogja Paku Alam VIII. Lalu, tugu diselimuti video Mapping oleh Jogjakarta video mapping project. Tugu disulap jadi warna-warni lolipop, polkadot, garis warna-warni. Memukau.

Semakin malam semakin ramai, tampak dari kejauhan panggung sedang dipenuhi oleh penari yang berasal mahasiswa ISI (Institut Seni Indonesia) didukung oleh musik gamelan dan tata lampu yang memanjakan mata. Ada banyak lagi yang terlewatkan karena memutuskan untuk melipir sekali lagi ke warkop bersama manteman.Terakhir, acara ditutup oleh puluhan kembang api yang ditembakkan kelangit. Banyak terlihat pengunjung tertegun mendonga kelangit dan sebagiannya lagi mengabadikan dengan ponsel mereka parade kembang api yang benderang diatas Tugu.

Karena hari itu memutuskan untuk jadi wisatawan malas, jadi harus total. Tak ada salahnya sesekali menjadi wisatawan malas, turut meramaikan dan menonton dari kejauhan. Esensi dari wisata adalah mencari hiburan yang nyaman dan menyegarkan, layaknya panas-panas kramas pake shampo menthol. Karena setiap aksi selalu menghasilkan stori.

Tunggu cerita-cerita wisatawan malas selanjutnya. Sudah pasti datar dan mungkin menarik.